Pages Navigation Menu

Lembaga Kajian, Bahasa & Agama Islam

Kandungan Surat Al Alaq 1 – 5

Kandungan Surat Al Alaq 1 – 5

Al-Qur’an, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Ibrahim Muhanna membahas berbagai aspek kehidupan manusia dan pendidikan merupakan tema terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Hal itu tidaklah aneh mengingat Al-Qur’an adalah Kitab Hidayah; dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya.[[1]]

Pendidikan sebagai unsur terpenting dalam kehidupan manusia dan merupakan penentu maju mundurnya suatu peradaban, tentunya mengalami proses dan perubahan seiring tahapan-tahapan perubahan yang dialami oleh manusia. Dan dalam tahapan perubahan ini, manusia seringkali mengalami penyimpangan yang tidak sejalan dengan fitrah kejadiannya yang terdiri dari dua unsur; yaitu unsur tanah dan unsur ketuhanan, karenanya manusia membutuhkan pembinaan yang seimbang antara keduanya, agar tercipta makhluk dwi dimensi dalam satu keseimbangan dunia dan akhirat, ilmu dan iman, atau meminjam istilah Zakiah Daradjat, yaitu terciptanya kepribadian manusia secara utuh rohani dan jasmani dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah SWT. atau lebih dikenal dengan istilah “insan kamil” dengan pola taqwa kepada-Nya.[[2]]

Untuk mencapai konsep ini (insan kamil), manusia haruslah berkualitas, dan kualisasi hidup manusia ini hanya akan diperoleh melalui proses pendidikan dan pengajaran yang Islami, atau menurut Quraisy Shihab, pendidikan Al-Qur’an.[[3]]

Pendidikan Al-Qur’an pada intinya adalah pendidikan (penyucian) dan pengajaran yang memberikan masukan kepada anak didik berupa ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam fisika dan metafisika. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan Al-Qur’an (Islam) adalah membina manusia guna mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah yang sekaligus sebagai khalifah-Nya dimuka bumi. Sebagai hamba, manusia bertugas mengelola seluruh potensi yang ada dialam ini, agar tercipta kedamaian abadi dan terhindar dari (hanya) membuat kerusakan yang pada akhirnya hanya akan mencelakakan manusia itu sendiri. Oleh karena itu dalam pendidikan Al-Qur’an, anak didik sebagai fokus pendidikan dibina unsur materialnya (jasmani) untuk menjadi manusia yang memiliki skill ketrampilan dan unsur imaterialnya (akal dan jiwa) dengan ilmu pengetahuan, kesucian jiwa dan etika (akhlaq). Keseimbangan (equaliberium) dalam pendidikan Al-Qur’an ini pada gilirannya akan menciptakan (melahirkan) manusia berkualitas yang memiliki perpaduan antara ketrampilan, ilmu pengetahuan dan akhlaq.

Namun, tujuan pendidikan yang sangat penting ini seringkali tidak tersentuh dalam proses pendidikan kita, karena proses belajar mengajar yang diterapkan masih sebatas transfer ilmu pengetahuan tanpa bernilai pendidikan sehingga out put dari dunia pendidikan kita hanya menjadi robot yang tidak mempunyai tujuan hidup serta lebih mementingkan benda-benda fisik-materi dari pada hal-hal yang bersifat spiritual-imateri yang merupakan potensi internal manusia. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyed Hussein Nasr, bahwa manusia modern telah kehilangan dimensi spiritualitasnya, yaitu potensi ketuhanan pribadi[[4]], sebagai konsekwensi logis dari sekularisasi pendidikan kita yang orientasinya hanya pada sejauhmana ia bisa masuk dalam lapangan pekerjaan bukan pada sejauhmana ia dapat mengaktualisasikan potensi dirinya yang sangat mulia, yang selanjutnya manusia akan kehilangan jati dirinya dan tidak mengenal lagi hakikat dirinya, karena mereka menganggap bahwa potensi eksternal (mesin-mesin, kekuasaan, kekayaan, pengaruh, jabatan dan lainnya) itulah yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya.

Itulah deskripsi awal yang setidaknya memberi dua alasan bagi penulis untuk mengangkat permasalahan ini. Pertama, lahirnya sekularisasi dalam dunia pendidikan telah berimplikasi pada lahirnya sekularisasi dalam kehidupan manusia. Pada satu sisi, kehidupan (sosial, ekonomi, politik maupun budaya) manusia terus bergerak pada titik ekstrem sekularisme dengan melakukan proses marginalisasi terhadap nilai-nilai agama. Sisi lain, pendidikan –khususnya yang bercorak- agama tidak mampu merespon apalagi melakukan sinergi terhadap kehidupan yang sekuler itu. Agama sebagaimana dipahami pemeluknya, terlena dengan persoalan keakhiratan semata, sementara persoalan kontemporer yang mendesak untuk direspon dibiarkan tanpa kendali agama.

Kedua, sekularisasi telah melahirkan berbagai persoalan akut yang menimpa masyarakat modern. Terutama krisis yang menghilangkan arah hidup manusia itu sendiri, karena sekularisasi hanya menyederhanakan manusia menjadi “manusia satu dimensi” (one dimentional man), yakni dimensi lahiriyah semata.

Pendidikan yang pada dasarnya berada pada posisi yang cukup strategis untuk melakukan transformasi nilai-nilai keislaman sebenarnya bisa menjadi penyeimbang bagi nilai-nilai sekuler yang sudah mewarnai sendi-sendi kehidupan manusia secara komprehensif. Dalam hal ini pendidikan Islam bisa memainkan perannya, tentu saja dengan tetap mengacu pada landasan konseptualnya, yakni Al-Qur’an dan Al-Hadist, supaya out put dari pendidikan Islam dapat berkualitas, baik intelektualnya maupun spiritualnya yang merupakan cita-cita seluruh insan di dunia untuk menjadi manusia yang sempurna, yaitu pendayagunaan daya rasa dan daya pikir yang memang menjadi potensi dalam diri manusia.

Sebab turunnya surat Al’Alaq ayat 1-5

Surat Iqro’ atau surat Al Alaq adalah surat yang pertama kali diturunkan pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Surat tersebut adalah surat Makkiyyah. Di awal-awal surat berisi perintah membaca. Yang dengan membaca dapat diketahui perintah dan larangan Allah. Jadi manusia bukanlah dicipta begitu saja di dunia, namun ia juga diperintah dan dilarang. Itulah urgensi membaca, maka bacalah, bacalah!

Allah Ta’ala berfirman,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia mengatakan: “Wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaih wassalam. adalah mimpi yang benar melalui tidur. Dimana beliau tidak bermimpi melainkan datang sesuatu seperti  falaq shubuh. Setelah itu beliau menjadi lebih senang mengasingkan diri, di gua Hira. Disana beliau beribadah untuk beberapa malam dengan membawa perbekalan yang cukup. Setelah itu, beliau pulang kembali kepada Khadijah untuk mengambil bekal yang sama sampai akhirnya datang kepada beliau wahyu secara tiba-tiba, yang ketika itu beliau masih berada di gua Hira. Di gua itu beliau didatangi oleh Malaikat Jibril seraya berkata: ‘Bacalah!’ Rasulullah shalallahu ‘alaih wassalam. bersabda, “Maka kukatakan: ‘Aku tidak dapat membaca.’” Lebih lanjut beliau bersabda: “Lalu Jibril memgangku seraya mendekapku sampai aku merasa kepayahan. Selanjutnya Jibril mendekapku untuk kedua kalinya sampai aku benar-benar kepayahan. Selanjutnya dia melepaskanku lagi seraya berkata: ‘Bacalah.’ Aku tetap menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca.’ Lalu dia mendekapku untuk ketiga kalinya sampai aku benar-benar kepayahan.’ Setelah itu dia melepaskan aku lagi seraya berkata: iqra’ bismirabbikal ladzii khalaq (“Bacalah dengan Nama Rabbmu yang menciptakan –sampai pada akhir ayat- maa lam ya’lam (“apa yang tidak diketahuinya”)” Dia berkata: “Maka beliaupun pulang dengan sekujur tubuh dalam keadaan menggigil sehingga akhirnya masuk menemui Khadijah dan berkata: ‘Selimuti aku. Selimuti aku.’ Merekapun segera menyelimuti beliau sampai rasa takut beliau hilang. Selanjutnya beliau bersabda: ‘Apa yang terjadi padaku?’ lalu beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya seraya bersabda, ‘Aku khawatir sesuatu akan menimpa diriku.’ Maka Khadijahpun berkata kepada beliau: ‘Tidak, bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling suka menyambung tali silaturahim, berkata jujur, menganggung beban, menghormati tamu, dan membantu menegakkan pilar-pilar kebenaran.’”

Kemudian Khadijah mengajak beliau pergi hingga akhirnya dia membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay, yaitu anak paman Khadijah, saudara laki-laki ayahnya. Dia seorang penganut nasrani pada jaman jahiliyah. Dia yang menulis sebuah kitab berbahasa Arab dan juga menulis Injil dengan bahasa Arab atas kehendak Allah. Dia adalah seorang yang sudah berumur lagi buta. Lalu Khadijah berkata: “Wahai anak paman, dengarkanlah cerita dari anak saudaramu ini.” Kemudian Waraqah berkata: “Wahai anak saudaraku, apa yang telah terjadi dengan dirimu?” kemudian Rasulullah menceritakan apa yang beliau alami kepadanya. Lalu Waraqah berkata: “Ini adalah Namus [malaikat Jibril] yang diturunkan kepada Musa. Andai saja saat itu aku masih muda. Andai saja nanti aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu.” Kemudian Rasulullah bertanya: “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab: “Ya. Tidak akan ada seorangpun yang datang dengan membawa apa yang engkau bawa melainkan akan disakiti. Dan jika aku masih hidup pada masamu, niscaya aku akan mendukungmu dengan pertolongan yang sangat besar.” Dan tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu terhenti, sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaih wassalam. benar-benar bersedih hati. Berdasarkan berita yang sampai kepada kami, kesedihan beliau itu berlangsung terus-menerus, agar beliau turun dari puncak gunung. Setiap kali beliau sampai di puncak gunung dengan tujuan menjatuhkan diri, maka Jibril muncul seraya berkata: “Wahai Muhammad sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah.” Dengan demikian, maka hati beliau pun menjadi tenang dan jiwanya menjadi stabil dan setelah itu beliau kembali pulang. Dan jika tenggang waktu tidak turunnya wahyu itu terlalu lama, maka beliau akan melakukan hal  yang sama. Di mana jika beliau sampai di puncak gunung, maka malaikat Jibril tampak olehnya dan mengucapkan hal yang sama kepada beliau.[[5]]

Tafsir surat Al’Alaq ayat 1-5

Surat ini adalah yang pertama kali turun pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Surat tersebut turun di awal-awal kenabian. Ketika itu beliau tidak tahu tulis menulis dan tidak mengerti tentang iman. Lantas Jibril datang dengan membawa risalah atau wahyu. Lalu Jibril memerintahkan nabi untuk membacanya. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– enggan. Beliau berkata,

مَا أَنَا بِقَارِئٍ

Aku tidak bisa membaca.” (HR. Bukhari no. 3).

Beliau terus mengatakan seperti itu sampai akhirnya beliau membacanya. Kemudian turunlah ayat,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan“.

Yang dimaksud menciptakan di sini adalah menciptakan makhluk secara umum. Tetapi yang dimaksudkan secara khusus di sini adalah manusia. Manusia diciptakan dari segumpal darah sebagaimana disebut dalam ayat selanjutnya,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Manusia bukan hanya dicipta, namun ia juga diperintah dan dilarang. Untuk menjelaskan perintah dan larangan ini diutuslah Rasul dan diturunkanlah Al Kitab (Al Qur’an). Oleh karena itu, setelah menceritakan perintah untuk membaca disebutkan mengenai penciptaan manusia.

Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia, yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula menjadikan insan kamil di antara manusia, seperti Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang pandai membaca walaupun tanpa belajar.[[6]]

Setelah itu, Allah memerintahkan,

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah.

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi-Nya untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat yang lain:

سنقرئك فلا تنسى

Artinya: “Kami akan membacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa”. (Q.S. Al ‘Alaq: 6)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. dapat membaca adalah dengan kemurahan Allah. Dia mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta kepada-Nya, maka dengan limpahan karunia-Nya dijadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dengan demikian hilanglah keuzuran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. yang beliau kemukakan kepada Jibril ketika menyuruh beliau membaca: “Saya tidak pandai membaca, karena saya seorang buta huruf yang tak pandai membaca dan menulis”.

Disebutkan bahwa Allah memiliki sifat pemurah yang luas dan karunianya yang besar pada makhluk-Nya. Di antara bentuk karunia Allah pada manusia -kata Syaikh As Sa’di rahimahullah– adalah Dia mengajarkan ilmu pada manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya,

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Artinya :“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Kata Syaikh As Sa’di rahimahullah, “Manusia dikeluarkan dari perut ibunya ketika lahir tidak mengetahui apa-apa. Lalu Allah menjadikan baginya penglihatan dan pendengaran serta hati sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu.” [[7]]

Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Allah ta’ala menyediakan qolam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat. sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Allah mengajarkannya dengan qolam (pena) yang bisa membuat ilmunya semakin lekat. Qolam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.

Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan manusia dari ‘Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan qolam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, “Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Allah mengajarkan pada manusia Al Qur’an dan mengajarkan padanya hikmah, yaitu ilmu. Allah pun mengutus Rasul supaya bisa menjelaskan pada mereka. Alhamdulillah, atas berbagai nikmat ini yang sulit dibalas dan disyukuri.

Konsep pembelajaran Islam dalam surat Al ‘Alaq : 1-5

Pesan pertama wahyu al-Qur’an adalah mengajarkan manusia untuk belajar, sehingga dengan belajar ini, manusia dapat memperoleh Ilmu pengetahuan.

Hal ini dipertegas pendapat al-Maraghi, yang mengatakan, bahwa Allah SWT. menjadikan pena ini sebagai sarana berkomunikasi antara sesama manusia, sekalipun letaknya  saling berjauhan. Ia tidak ubahnya lisan yang bicara, qalamadalah benda mati yang tidak bisa memberikan pengertian. Oleh sebab itu, Allah menciptakan benda  mati bisa menjadi alat komunikasi, sehingga tidak ada kesulitan bagi nabi Muhammad shalallahu ‘alaih wassalam. bisa membaca dan memberikan penjelasan serta pengajaran, karena jika tidak ada  qalam, maka manusia tidak akan dapat memahami berbagai ilmu pengetahuan.[[8]]

Pengetahuaan adalah sangat penting peranannya bagi manusia. Barang siapa menguasai pengetahuan, maka dia dapat berkuasa (knowledge is power). Pengetahuan bersumber dari perangkat mata pelajaran yang disampaikan di sekolah, sehingga para pakar yang mendukung teori ini berpendapat bahwa mata pelajaran itu  berasal dari pengalaman orang tua, masa lampau yang berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Pengalaman-pengalaman itu diselidiki, disusun secara sistematis dan logis, sehingga tercipta berbagai bentuk mata pelajaran. Mata pelajaran-mata pelajaran itu diuraikan, disusun dan dimuat dalam buku pelajaran dan berbagai referensi lainnya.[[9]]

Membaca sebagai bagian dari belajar dalam konteks ini merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi karena latihan dan pengalaman.Sedangkan tujuan belajar dapat di kemukakan menjadi dua hal: yaitu tujuan belajar yang ditentukan oleh yang belajar itu sendiri dan tujuan belajar oleh orang lain yang sedang belajar.

Dalam proses belajar diperlukan adanya pendekatan, baik dalam belajar individual maupun belajar kelompok. Salah satu kunci dari berbagai pendekatan belajar individual adalah sumber belajar dan pusat sumber belajar, di mana banyak tersimpan materi pelajaran dan alat bantu yang disediakan untuk menunjang belajar mandiri (self learning).

Sumber belajar resaunces atau resaunces learning merupakan satu set bahan atau situasi belajar yang dengan sengaja diciptakan agar siswa secara individual dapat belajar sehingga memungkinkan keseluruhan kegiatan belajar dilakukan dengan menggunakan sumber belajar, baik manusia maupun bahan belajar non manusia dalam situasi belajar yang diatur secara efektif.[[10]] Karena pembelajaran itu sendiri adalah usaha untuk membantu siswa mengembangkaan potensi intelektual yang ada padanya.

Kemampuan membaca tidak hanya memungkinkan seseorang meningkat-kan ketrampilan kerja dan penguasaan berbagai bidang akademik, tetapi juga memungkinkan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial budaya, politik dan memenuhi kebutuhan emosional. Meskipun membaca juga memiliki manfaat sebagai sarana rekreasi atau untuk memperoleh kesenangan, namun demikian membaca juga merupakan suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan, sehingga anak harus belajar membaca dan kesulitan belajar membaca harus sedini mungkin bagi anak yang berkesulitan membaca. Hal ini sesuai dengan wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaih wassalam., yakni al-‘Alaq ayat 1-5.

Surat al-‘Alaq yang diajarkan kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaih wassalam. pada dasarnya merupakan konsep dasar  Islam tentang pembelajaran, yang dikenalkan melalui konsep baca dan tulis yang dianggap sebagai alat yang efektif untuk pendidikan. Dengan kedua instrumen inilah, menurut Sahal Mahfudh mengatakan bahwa ayat Allah, baik yang tertulis (qauliyah) maupun yang tidak tertulis (kauniyah) dapat dibaca dan ditelaah oleh umat manusia.

Karena sejarah mencatat, budaya baca dan tulis yang maju pesat pada masa Islam klasik telah menghantarkan umat Islam mencapai zaman keemasannya, sehingga menjadi umat yang memiliki pengetahuan dan peradaban yang paling tinggi pada masanya. Oleh karena itu tidak mustahil fakta sejarah ini menjadi terulang kembali, apabila kedua instrumen di atas menjadi budaya umat Islam dalam mempelajari ayat-ayat Allah, baik  qauliyah maupun kauniyah.[[11]]

Makna penting kegiatan baca dan pena sebagai lambang tulis menulis dan wahyu pertama turunnya al-Qur’an ini telah ditafsirkan oleh Muhammad Asad yang dikutip Abdurrahman Mas’ud yang mengatakan, bahwa pena digunakan sebagai simbol aktivitas menulis atau lebih spesifik simbol semua pengetahuan yang diabadikan melalui jalan penulisan. Hal ini menerangkan ajakan simbolis “bacalah” dalam surat al-‘Alaq ayat 1 dan 3.

Manusia disebutkan dalam al-Qur’an diajari oleh Allah ta’ala sesuatu yang tiada satupun orang tahu, yang tidak mungkin tahu  dengan cara dirinya sendiri, yakni, kemampuan unik manusia untuk menyebarluaskan atau meneruskan tulis menulis, pikiran-pikiran, pengalaman-pengalaman dan wawasan dari satu individu ke individu, generasi ke generasi dan satu komunitas budaya satu pada budaya lain, memberkahi semua manusia yang terlibat aktivitas ini dengan satu cara atau cara lain, dalam akumulasi pengetahuan yang berkesinambungan.[[12]]

Dari uraian di atas jelas, bahwa membaca dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam sangat penting perannya dalan rangka untuk memahami agama Islam. Membaca yang dimaksudkan di sini sebagaimana telah dijelaskan dalam surat al-‘Alaq  ayat 1-5 tidak hanya sekedar membaca teks dalam bentuk tulisan, namun lebih dari itu adalah memahami maksud dan tujuan agama Islam itu sendiri, sehingga dengan membaca ini seseorang yang mengamalkan dalam kehidupan sehari. Oleh karena itu, hasil membaca itu sendiri sinkron dengan tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam yang tidak sekedar mampu memahami dan mengetahui (menguasai aspek kognitif), namun juga menyentuh aspek afektif dan psikomotorik.

Urgensi belajar menurut Al Qur’an kajian surat Al ‘Alaq : 1-5

Surat Al-Alaq (Iqra’) termasuk pertama ayat Al-Qur’an yang diturunkan dari Al-Qur’an, di Makkah 19 ayat, 93 kalimat dan 280 huruf. Dalam surat Al-Alaq yang kita padang sebagai surat pertama Al-Qur’an yang diturunkan, dapatlah kita lihat suatu gambaran yang hidup mengenai suatu pristiwa terbesar yang pernah terjadi pada sejarah manusia, yaitu pertemuan nabi Muhammad dengan Jibril untuk pertama kali di Gua Hiro’ dan penerimaan wahyu yang pertama setelah nabi berusia 40 tahun.

Bagian pertama surat Al-Alaq ini mengarahkan Muhammad SHALALLAHU ‘ALAIH WASSALAM kepada Allah agar ia berkomunikasi dengan Allah dan ia dengan nama Allah membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang diterima melalui wahyu/Jibril (bukan membaca tulisan di atas kertas, sebab ia adalah ummi/tidak pandai baca tulis). Sebab dari Allah lah asal mula segala makhluk dan kepadanya pulalah kembali kepadanya itu.

Wahyu pertama itu juga mengingatkan, bahwa Allah telah memuliakan/ menjunjung martabat manusia dengan memalui pena (tulis baca). Artinya dengan proses belajar mengajar itu manusia dapat menguasai ilmu-ilmu pengetahuan dan dengan ilmu-ilmu pengetahuan ini manusia dapat mengetahui rahasia alam semesta yang sangat bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya. Padahal manusia itu dijadikan oleh Allah dari segumpal darah yang melekat dirahim ibu.

Surat Al-Alaq 1-5 diturunkan sewaktu Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIH WASSALAM. berkhalwat di Gua Hiro, ketika itu beliau berusia 40 tahun. Ayat-ayat merupakan ayat-ayat pertama kali diturunkan, yang sekaligus merupakan tanda pengangkatan Muhammad sebagai Rasul Allah.

Surat Al-Alaq 1-5 mengandung pengertian bahwa untuk memahami segala macam ilmu pengetahuan, seseorang harus pandai dalam membaca. Dalam membaca itu harus didahului dengan menyebut nama Tuhan ; yakni dengan membaca “BasmAllah” terlebih dulu dan ingat akan kekuasaan yang dimiliki-Nya, sehingga ilmu yang diperoleh dari membaca itu, akan menambah dekatnya hubungan manusia dengan khaliknya.

Allah ta’ala menjelaskan bahwa dialah yang menciptakan manusia dari segumpal darah dan kemudian menjadikan makhluk yang paling mulia. Ini menunjukkan betapa maha kuasanya Allah ta’ala.

Pada ayat berikutnya Allah ta’ala. Mengulang memerintahkan membaca itu mengetahui kemuliaan Allah Yang Maha Pemurah.

Dengan limpahan karunia-Nya, dia mengajarkan kepada manusia kemampuan membaca dan kemampuan menggunakan pena (kemampuan baca tulis), yang menyebabkan manusia dapat mempelajari berbagai persoalan, sehingga manusia dapat menguasai berbagai ilmu yang diperlukan dalam hidupnya.

Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata, “Seseorang itu akan semakin mulia dengan ilmu diin yang ia miliki. Ilmu itulah yang membedakan bapak manusia, yaitu Adam dengan para malaikat. Ilmu ini terkadang di pikiran. Ilmu juga kadang di lisan. Ilmu juga terkadang di dalam tulisan tangan untuk menyalurkan apa yang dalam pikiran, lisan, maupun yang tergambarkan di pikiran.”

Adapun Firman Allah ta’ala, tentang keutamaan menuntut ilmu dan mengamalkannya adalah:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Artinya    :  Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (QS. Al- Baqarah, 151).

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya    :  Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (QS. Al-Imran, 137).

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Artinya    :  Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu (Al-Maidah, 63).

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

Artinya    :  Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat (QS. Al-A’raf, 175).

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُالْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya    :  Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir (QS. Al-A’raf, 176).

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْلَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya    :  Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (QS. Attaubah, 122).

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ فَمَحَوْنَا ءَايَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا ءَايَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَوَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

Artinya    :  Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas (QS. Al-Isra’, 12).

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Artinya    :  Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi, 66).)

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Artinya    :  Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaahaa, 114).

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِيالْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya    :  Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (QS. Al-Al-jumu’ah, 5).

Adapun hadists Nabi yang berkaitan dengan keutamaan belajar adalah:

عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ -صلى الله عليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ »

Artinya    :  “Dari Katsir bin Qois, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” [[13]]

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Artinya : “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” [[14]]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya : “Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” [[15]]

Dari Abu Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

Artinya : “Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” [[16]]

Para ulama berkata,

من كان بالله اعرف كان لله اخوف

Artinya : “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.[17]

Dan sungguh sangat indah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim,

ولو لم يكن في العلم الا القرب من رب العالمين والالتحاق بعالم الملائكة وصحبة الملأ الاعلى لكفى به فضلا وشرفا فكيف وعز الدنيا والآخرة منوط به ومشروط بحصوله

Artinya : “Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Rabb semesta alam), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya” [[18]]

Sudah menjadi suatu keniscayaan bahwa kemajuan dalam bidang pendidikan adalah salah satu syarat bagi sebuah negara untuk ikut sejajar dalam deretan negara-negara maju sekaligus disebut sebagai negara yang bermartabat. Apalagi sekarang kita sudah mengenal konsep tentang Sumber Daya Manusia (SDM), suatu konsep yang langsung terkait dengan peranan pendidikan. Sudah merupakan dalil yang terbukti mantap, bahwa masyarakat dan bangsa dengan SDM yang berkualitas tinggi akan membawa kejayaan warganya., dan membuat negara menjadi maju, perkasa dan bermartabat. Kekayaan sumber daya manusia yang berkualitas, yang berarti kemampuan tinggi dalam berpikir dan bekerja sistematis.

Terciptanya masyarakat belajar dan individu-individu pembelajar di dalamnya merupakan keharusan di masa kini dan mendatang. Apabila tidak, maka kita akan tertinggal, dan tertinggal jauh dari masyarakat lain yang telah banyak belajar pembentukan masyarakat belajar, diawali oleh pembentukan individu-individu yang menjadi warganya. Pengubahan individu yang santai menjadi individu yang gesit dan suka berkerja keras, individu konsumtif menjadi produktif, individu penerima menjadi individu pemberi, individu yang mudah menyerah pada keadaan menjadi individu yang gigih merubah keadaan, menuntut penambahan perubahan tersebut diawali pada perubahan presepsi dan sikap, baik terhadap dirinya, maupun terhadap masyarakat dan lingkungannya.

Upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya manusia (SDM) merupakan tugas besar dan membutuhkan jangka waktu yang panjang, karena mengangkat pendidikan bangsa, dan masa depan suatu bangsa banyak ditentukan oleh kualitas pendidikannya.

Belajar dan motivasi selalu mendapat perhatian khusus bagi mereka yang belajar dan mengajar. Pernyataan yang lelalu dikemukakan ialah: bagaimanakan motivasi seseorang mempelajari apa yang harus dipelajarinya? Dalam kehidupan sehari-hari dijumpai orang dengan penuh anusias dan ketekunan melaksanakan berbagai kegiatan belajar, sedang di pihak lain ada yang tidak bergairah dan bermalas-malas. Kenyatan tersebut tentu mempunyai sebab-sebab yang perlu diketahui lebih lanjut  untuk kepentingan motivasi belajar

Tujuan pendidikan dalam surat Al ‘Alaq : 1-5

Berbicara tentang tujuan pendidikan, tak dapat tidak mengajak kita bicara tentang tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival), baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Tujuan pendidikan islam adalah ubudiyah (beribadat) menghambakan diri pada Allah. Pendapat ini beralasan kepada firman Allah, artinya: “dan tidaklah mereka disuruh, melainkan supaya mereka menyembah Allah serta mengikhlaskan agama kepadaNya”. (Al-Bayyinah:5).

Menurut Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang dikutip oleh Majid ‘Irsan al-Kaylani,[19] tujuan pendidikan Islam tertumpu pada empat aspek, yaitu,

  1. Tercapainya pendidikan tauhid dengan cara mempelajari ayat Allah SWT. dalam wahyu-Nya dan ayat-ayat fisik (afaq) dan psikis (anfus);
  2. Mengetahui ilmu Allah SWT. melalui pemahaman terhadap kebenaran makhluk-Nya;
  3. Mengetahui kekuatan (qudrah) Allah melalui pemahaman jenis-jenis, kuantitas, dan kreativitas makhluk-Nya; dan
  4. Mengetahui apa yang diperbuat Allah SWT. (sunnah Allah) tentang realitas (alam) dan jenis-jenis perilakunya.

Adapun apabila dikaitkan dengan Al Qur’an surat Al ‘Alaq : 1-5, maka tujuan pendidikan Islam dapat dijabarkan sebagai berikut :

Pertama Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.

Kedua  Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.

Ketiga Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.[[20]]

Jadi kesimpulannya, pada hakekatnya tujuan pendidikan Islam adalah:

  1. Membentuk manusia beraqidah (Tarbiyah ‘Aqidiyah)
  2. Membentuk manusia beraklak mulia (Tarbiyah Khuluqiyah)
  3. Membentuk manusia berfikir (Tarbiyah Fikriyah)
  4. Membentuk manusia sehat dan kuat (Tarbiyah Jismiyah)
  5. Membentuk manusia kreatif, inisiatif, antisipatif, dan responsive (Tarbiyah Amaliyah). [[21]]

Dari paaparan di atas dapat disampaikan kesimpulan bahwa :

  1. Pesan pertama wahyu al-Qur’an adalah mengajarkan manusia untuk belajar, sehingga dengan belajar ini, manusia dapat memperoleh Ilmu pengetahuan.
  2. Pengetahuaan adalah sangat penting peranannya bagi manusia. Barang siapa menguasai pengetahuan, maka dia dapat berkuasa (knowledge is power).
  3. Surat al-‘Alaq yang diajarkan kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaih wassalam. pada dasarnya merupakan konsep dasar  Islam tentang pembelajaran, yang dikenalkan melalui konsep baca dan tulis.
  4. Bahwa Allah telah memuliakan/ menjunjung martabat manusia dengan memalui pena (tulis baca). Artinya dengan proses belajar mengajar itu manusia dapat menguasai ilmu-ilmu pengetahuan dan dengan ilmu-ilmu pengetahuan ini manusia dapat mengetahui rahasia alam semesta yang sangat bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya.
  5. Hakekatnya tujuan pendidikan Islam adalah:
  6. Membentuk manusia beraqidah (Tarbiyah ‘Aqidiyah)
  7. Membentuk manusia beraklak mulia (Tarbiyah Khuluqiyah)
  8. Membentuk manusia berfikir (Tarbiyah Fikriyah)
  9. Membentuk manusia sehat dan kuat (Tarbiyah Jismiyah)
  10. Membentuk manusia kreatif, inisiatif, antisipatif, dan responsive (Tarbiyah Amaliyah).

 

Belajar merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis sampaikan kepada :

  1. Sekolah atau madrasah agar dalam melaksanankan kegiatan pendidikan, hendaknya dalam memberikan motivasi belajar kepada peserta didik menyertakan konsep kajian surat Al ‘Alaq : 1-5 sebagaimana tersebut di atas.
  2. Bagi praktisi pendidikan hendaknya berpikiran dan berperilaku seperti kerangka konsep pendidikan Islam yang sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan.
  3. Penulis berikutnya, supaya menyempurnakan kembali hasil penulisan ini, karena masih banyak nilai-nilai pendidikan yang belum terungkap dalam tulisan ini, oleh karenanya, bagi penulis selanjutnya bisa melengkapi berikut aplikasinya dalam dunia pendidikan secara nyata.

Disusun oleh : Ngaji Babar, Madugondo, 11 Juni 2014

Sumber :

Ahmad ibrahim muhanna, al-tarbiyah fi al-islam, (Cairo: dar al-sya’bi, 1982),  hal. 13, dikutip oleh hery noer ali, ilmu pendidikan islam, (Jakarta: logos, 1999),

Zakiah daradjat, ilmu pendidikan islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000)

Quraisy shihab,  membumikan al-qur’an, (Bandung: Mizan, 1994)

Komaruddin hidayat, upaya pembebasan manusia, tinjauan sufistik terhadap manusia modern menurut Sayyed Hussein Nasr, dalam M. Dawam rahardjo, insan kamil, konsepsi manusia menurut islam, (Jakarta: PT. Pustaka grafiti pers, 1987), hal. 183-193, ditranskripsi kembali

Ahmad,vi/232, no. 25959, hadits ini juga diriwayatkan dalam shahih bukhari dan shahih muslim dari hadits az zuhri. (fathul baari, xii/368 dan musli, i/139). Dikutip oleh umar fauzi, awal wahyu, perintah membaca, 2013 dalam http://keluargaumarfauzi.blogspot.com/2013/04/tafsir-al-alaq-ayat-1-5.html, pada 11/07/2014, 15.10

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=96

(Taisiri al Karimir rahman, hal. 930), dikutip oleh Muhammad abduh tuasikal, tafsir surat iqra’,2013, http://rumaysho.com/tafsir-al-quran/tafsir-surat-iqro-1-bacalah-dan-bacalah-3505 .

Ahmad Mustafa al-maraghi, tafsir al-maraghi, juz 29, (mesir: mustafa bab al-halabi, t.th.), hlm. 200.dikutip oleh Hakam Abas, implementasi hakikat membaca dalam al-qur’an surat al-‘alaq ayat 1-5 dalam pembelajaran pendidikan agama islam, 2013, http://hakamabbas.blogspot.com/2013/10/implementasi-hakikat-membaca-dalam-al.html

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 58., dikutip oleh hakam abas, implementasi hakikat membaca dalam al-qur’an surat al-‘alaq ayat 1-5 dalam pembelajaran pendidikan agama islam, , 2013, http://hakamabbas.blogspot.com/2013/10/implementasi-hakikat-membaca-dalam-al.html

Syaiful Bahri Djamarah, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 1991), hlm. 65, dikutip oleh hakam abas, implementasi hakikat membaca dalam al-qur’an surat al-‘alaq ayat 1-5 dalam pembelajaran pendidikan agama islam, , 2013, http://hakamabbas.blogspot.com/2013/10/implementasi-hakikat-membaca-dalam-al.html

(HR. Abu daud no. 3641. Syaikh al albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dikutip muhammad abduh t., keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.20

(HR. Bukhari no. 71 dan muslim no. 1037). Dikutip Muhammad Abduh., keutamaan ilmu agama, 2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.28

(HR. Muslim no. 1631), dikutip Muhammad Abduh t., keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.29

(HR. Bukhari dan muslim). dikutip Muhammad Abduh t., keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.32

Muhammad Abduh, Keutamaan Ilmu Agama, 2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.34

Miftah daaris sa’adah, 1: 104)., dikutip Muhammad Abduh t., Keutamaan Ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.35

Majid ‘Irsan Al-kaylani, al-fikr al-tarbawi ‘inda Ibn Taymiyah, (Al-madinah al-munawwarah: maktabah dar al-tarats, 1986), hal. 117-118, dikutip oleh bukhori umar, tujuan pendidikan islam, 2012, http://bukhariumar59.blogspot.com /2012_07_19_archive.html, pada 11/07/2014.23.06

Zulfani, inung, Hakekat Tujuan Pendidikan Islam, 2009, http://paisnews.blogspot.com/2009/06/hakekat-tujuan-pendidikan-islam.html pada 11/07/2014/23.30

http://kutiba.multiply.com/journal/item/6/pendidikan_Islam

[[1]]  Ahmad Ibrahim Muhanna, al-tarbiyah fi al-islam, (cairo: dar al-sya’bi, 1982),  hal. 13, dikutip oleh Hery Noer Ali, ilmu pendidikan islam, (jakarta: logos, 1999),  hal. 38

[[2]] Zakiah Daradjat, ilmu pendidikan islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 29

[[3]] Quraisy Shihab,  membumikan al-qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 172

[[4]] Komaruddin hidayat, Upaya Pembebasan Manusia, Tinjauan Sufistik Terhadap Manusia Modern Menurut Sayyed Hussein Nasr, dalam M. Dawam rahardjo, Insan Kamil, konsepsi manusia menurut islam, (jakarta: pt. Pustaka grafiti pers, 1987), hal. 183-193, ditranskripsi kembali dalam, Sayyed Hussein Nasr: tentang krisis spiritual manusia modern, (Sumenep: Jurnal Fajar stika, 1997), hal. 26

[[5]] Ahmad,VI/232, no. 25959, hadits ini juga diriwayatkan dalam shahih bukhari dan shahih muslim dari hadits az zuhri. (Fathul Baari, XII/368 dan musli, i/139). Dikutip oleh Umar Fauzi,awal wahyu, perintah membaca,2013 http://keluargaumarfauzi.blogspot.com /2013/04/tafsir-al-alaq-ayat-1-5.html, pada 11/07/2014, 15.10

[[6]] http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=96

[[7]] (Taisiri Al Karimir Rahman, hal. 930). Dikutip Muhammad Abduh Tuasikal, tafsir surat iqra’, 2013, http://rumaysho.com/tafsir-al-quran/tafsir-surat-iqro-1-bacalah-dan-bacalah-3505 .

[[8]] Ahmad Mustafa al-maraghi, Tafsir Al-Maraghi, juz 29, (Mesir: mustafa bab al-halabi, t.th.), hlm. 200.dikutip oleh Hakam Abas, implementasi hakikat membaca dalam Al-qur’an surat al-‘alaq ayat 1-5 dalam pembelajaran pendidikan agama islam, , 2013, http://hakamabbas.blogspot.com/2013/10/implementasi-hakikat-membaca-dalam-al.html

[[9]] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 58., dikutip oleh Hakam Abas, implementasi hakikat membaca dalam al-qur’an surat al-‘alaq ayat 1-5 dalam pembelajaran pendidikan agama islam, , 2013, http://hakamabbas.blogspot.com/2013/10/implementasi-hakikat-membaca-dalam-al.html

[[10]] Syaiful Bahri Djamarah, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 1991), hlm. 65, dikutip oleh hakam abas, implementasi hakikat membaca dalam al-qur’an surat al-‘alaq ayat 1-5 dalam pembelajaran pendidikan agama islam, , 2013, http://hakamabbas. blogspot.com/2013/10/ implementasi-hakikat-membaca-dalam-al.html

[[11]] Abdurrahman Mas’ud, Antologi Studi Agama dan Pendidikan, (Semarang: Aneka Ilmu, 2004), hlm. xiii.

[[12]] Abdurrahman Mas’ud, Antologi Studi Agama dan Pendidikan, (Semarang: Aneka Ilmu, 2004), hlm. 70.

[[13]] (HR. Abu daud no. 3641. Syaikh al albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dikutip Muhammad Abduh, keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.20

[[14]] (HR. Bukhari no. 71 dan muslim no. 1037). Dikutip muhammad abduh t., keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.28

[[15]] (HR. Muslim no. 1631), dikutip muhammad abduh t., keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.29

[[16]] (HR. Bukhari dan muslim). Dikutip muhammad abduh t., keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.32

[[17]] Muhammad Abduh T., keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan /keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.34

[[18]] Miftah daaris sa’adah, 1: 104)., dikutip Muhammad Abduh t., keutamaan ilmu agama,2013, http://rumaysho.com/amalan/keutamaan-ilmu-agama-3314 , pada 11/07/2014, 22.35

[[19]] Majid ‘irsan al-kaylani, al-fikr al-tarbawi ‘inda ibn taymiyah, (Al-madinah al-munawwarah: Maktabah dar Al-tarats, 1986), hal. 117-118, dikutip oleh bukhori umar, tujuan pendidikan islam, 2012, http://bukhariumar59.blogspot.com /2012_07_19_archive.html, pada 11/07/2014.23.06

[[20]] Zulfani, inung, hakekat tujuan pendidikan islam, 2009, http://paisnews.blogspot.com /2009/06/hakekat-tujuan-pendidikan-islam.html pada 11/07/2014/23.30

[[21]] http://kutiba.multiply.com/journal/item/6/pendidikan_Islam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *